Kecanduan Scrolling, Kenali Apa Itu Brain Rot Yang Berbahaya Bagi Anak-anak, Orang Tua dan Guru Wajib Tahu & Waspada



Baru-baru ini muncul istilah yang popular yang menjadi global pada internet, fenomena ini diperkuat dengan mendapat pengkuan global pada tahun 2024, dimana istilah Brain-rot ini dinobatkan sebagai Oxford Word of the Year 2024 oleh Oxfort University Press. Dilakukan melalui voting publik secara online di seluruh dunia, dan dianalisis oleh tim ahli UOP. Oxford University Press (OUP) mencatat bahwa frekuensi penggunaan istilah brain rot meningkat hingga 230% antara tahun 2023 dan 2024.

Sebenarnya istilah ini ramai diperbingkan dan populer yang signifikan dikalangan gen z dan gen alpha sejak awal tahun 2020, yang terutama melalui platform seperti tiktok.  Meskipun istilah itu sendiri sudah ada sejak abad ke-19, tercatat dalam buku Walden oleh Henry David Thoreau tahun 1854, menggunakan istilah “brain-rot” (kebusukan otak) yang dimana istilah ini menggambarkan sebagai penurunan kondisi mental atau intelektual.

Istilah ini sendiri sekarang muncul karena maraknya konten-konten online yang dianggat tidak penting atau receh, maknanya terkait dengan konsumsi konten digital berkualitas rendah merupakan fenomena modern yang melonjak penggunaannya.

Kali ini kita akan melihat dan menganalisis tentang :

  1. Bagaimana hubungan brain-rot dengan rendahnya minat belajar siswa di sekolah, apa hubungan yang bisa digali dari fenomena ini, & akibat yang ditimbulkan, lalu
  2. Bagaimana penggunaan handphone berlebihan mempercepat brain rot pada anak, dan
  3. Apa solusi bagi orang tua dan penerapannya pada pendidikan di rumah, lalu
  4. Apa yang perlu dilakukan oleh guru, serta penerapannya pada pembelajaran di sekolah

Simak dan kita akan mempelajarinya pada pembahasan ini.

Sebagaimana pembahasan sebelumnya, brain-rot adalah istilah yang menggambarkan penurunan kemampuan kognitif dan daya pikir kritis seseorang, yang diyakini disebabkan oleh paparan konten digital yang bersifat cepat, dangkal, dan berorientasi hiburan terus-menerus dan berlebihan.

Bagaimana hubungan brain-rot dengan rendahnya minat belajar siswa di sekolah, apa hubungan yang bisa digali dari fenomena ini, & akibat yang ditimbulkan?

Konsumsi video pendek seperti di tiktok, youtube short, instagram reels yang berlebihan berdampak signifikan kepada gejala brain-rot, melalui mekanisme yang secara langsung menyerang daya atensi siswa, yang mana daya atensi ini penting untuk siswa dapat belajar secara efektif.

1. Penurunan rentang perhatian (Attention Span)

Penurunan daya atensi karena stimulasi instan dan cepat saat menonton video pendek yang mana begitu banyak dan bervariasi secara bergantian, memberikan stimulasi visual dan auditori. Otak pengguna, terutama siswa menjadi terbiasa menerima kebaruan dan kepuasan secara instan.

Kebiasaan ini berdampak pada berkurangnya minat dan toleransi terhadap tugas jangka panjang, yang mana membuat otak sulit untuk fokus pada aktivitas yang butuh perhatian lebih dan berkelanjutan. Pemrosesan informasi yang mendalam (seperti membaca buku, mendengarkan penjelasan, atau menyelesaikan soal kompleks) menjadi sulit dilakukan dan otak menjadi cepat lelah dan jenuh karena hal-hal tersebut terasa membosankan sebab tidak memberikan reward instan seperti yang didapatkan dari scrolling video.

2. Sikuls domamin instan (Dopamine Loop)

Platform video pendek memanfaatkan sistem penghargaan (reward system) pada otak dengan memicu pelepasan neurotransmitter dopamin setiap kali pengguna menemukan konten yang menarik. Pola ini disebut intermittent reinforcement (penguatan tidak teratur), yang mirip dengan cara kerja mesin judi, menjadikannya sangat adiktif.

Ketergantungan pada dopamine loop ini membuat siswa kurang termotivasi pada tugas-tugas yang dimana menuntut ketekunan, konsentrasi dan penundaan kepuasan. Elemen-eleman penting proses belajar ini diabaikan dan lebih memilih mencari stimulasi instan dari gawai daripada terlibat dalam proses pembelajaran di sekolah.

3. Gangguan fungsi eksekutif otak

Fungsi eksekutif yang terganggu karena paparan konten cepat, yang dimana fungsi eksekutif otak yang bertanggung jawab atas kontrol impuls, pengendalian perhatian dan pemecahan masalah serta yang mengatur perencanaan jangka panjang.

Dari hal ini siswa mengalami kesulitan untuk beralih fokus dan aktivitas digital yang overstimulasi ke lingkungan belajar konvensional. Para siswa mungkin secara fisik berada di kelas, tetapi pikiran mereka terdistraksi atau gelisah ingin kembali ke konten digital, yang sering disebut sebagai continuous partial attention.

4. Dampak pada berpikir kritis dan pemahaman mendalam

Informasi dangkal yang banyak beredar cenderung menyajikan potongan informasi yang receh tanpa narasi atau konteks yang utuh. Hal ini menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan analisis mendalam yang sangat krusial dalam memahami materi pelajaran.

Kebiasaan mengonsumsi konten visual depat dan dangkal juga menyebabkan pergeseran dari membaca teks panjang, sehingga kemampuan literasi (membaca mendalam dan memahami konteks) siswa menurun.

Bagaimana penggunaan handphone berlebihan mempercepat brain rot pada anak

Dari fenomena brain-rot dan penurunan daya atensi sangat dipengaruhi dan diperparah oleh tingginya penggunaan HP (atau perangkat digital lainnya) dikalangan anak-anak, terutama yang masih dibawah umur, bahkan sejak usia dini. Hubungan ini sangat krusial karena otak anak-anak masih dalam tahap perkembangan pesat, menjadikannya jauh lebih rentan terhadap efek stimulan instan dari stimulasi digital yang berlebihan.

Penggunaan HP yang berlebihan, terutama untuk menonton video pendek yang dirancang untuk menarik perhatian secara instan, memberikan dampak negatif selain pada perkembangan kognitif dan perilaku anak/siswa yang juga berkontribusi pada gelaja brain-rot.

1. Gangguan Perkembangan Kognitif dan Otak

  • Pertumbuhan Otak Cepat: Pada anak usia dini (terutama di bawah 6 tahun), otak tumbuh dan membentuk koneksi saraf dengan sangat cepat. Stimulasi haruslah berupa interaksi sosial, bermain aktif, dan eksplorasi lingkungan.

2. Risiko ADHD dan Defisit Atensi

  • Kecenderungan ADHD: Penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak sering dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah perhatian, termasuk gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Anak menjadi sulit memusatkan perhatian dan berkonsentrasi dalam jangka waktu yang dibutuhkan untuk belajar.
  • Ketergantungan Instan: Mereka terbiasa dengan rangsangan visual-audio yang berubah setiap beberapa detik. Akibatnya, tugas belajar di sekolah yang lambat, stabil, dan membutuhkan analisis mendalam akan terasa sangat membosankan dan sulit dipertahankan.
3. Keterlambatan Bicara dan Masalah Sosial

  • Kurangnya Interaksi Sosial: Waktu yang dihabiskan anak di depan layar mengurangi waktu interaksi langsung dengan orang tua, teman sebaya, dan lingkungan. Interaksi inilah yang esensial untuk melatih kemampuan bahasa ekspresif dan reseptif serta keterampilan bersosialisasi.
  • Perilaku Pasif: Anak-anak cenderung tumbuh menjadi lebih pasif, individualis, dan sulit bersosialisasi karena mereka merasa lebih puas dengan hiburan instan dari HP daripada interaksi dunia nyata.

Apa solusi bagi orang tua dan penerapannya pada pendidikan di rumah

Dalam hal ini, peran orang tua sangat sentral dan dibutuhkan demi menyelamatkan anak-anak dari masalah brain-rot ini. Brain-rot adalah masalah lingkungan, dan orang tua adalah arsitek utama dari lingkungan digital anak.

Sebagai orang tua harus memahami dan mengakui masalah dan mendidik diri sendiri. Sadar bahwa memberikan gadget tanpa batas bukanlah kasih sayang, melainkan menjadi potensi penghambat perkembangan kognitif anak.

Bagi orang tua, perlunya pemahaman mekanisme dopamin, sadari bahwa video pendek menciptakan kecanduan dengan dopamin loop yang membuat anak enggan belajar. Tonton video edukasi atau baca artikel tentang “brain-rot” dan “efek tiktok brain” agar memahami dari sudut pandang ilmiah.

Kenali batasan usia dan pahami rekomendasi waktu layar yang baik bagi anak berdasarkan usia anak seperti pada tabel dibawah ini :

Kelompok Usia

Rekomendasi Batasan Maksimal

0-2 Tahun

Dihindari sepenuhnya, kecuali untuk video call dengan keluarga.

2-5 Tahun

Maksimal 1 jam per hari, itupun harus didampingi dan berupa konten edukatif.

6 Tahun ke Atas

Maksimal 2-3 jam per hari, dengan prioritas pada konten edukatif dan memastikan ada keseimbangan dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial.

Pasang pengingat atau timer untuk membatasi waktu anak agar penggunaan HP tidak melebihi batas.

Gadget atau perangkat digital bukan babysitter yang dimana penggunaannya untuk menenangkan anak, ini adalah solusi jangka pendek yang merusak daya atensi jangka panjang. Latih diri untuk menghadapi tantrum atau rengekan tanpa menyerahkan pada gawai, bisa diganti dengan interaksi, pelukan, atau mainan fisik.

Strategi Praktis Pembatasan dan Pengawasan

  1. Alih-alit melarang total (yang bisa saja sulit dilakukan di era digital), terapkan strategi pembatasan yang konsisten.
  2. Kontrol lingkungan digital seperti menentukan area atau waktu di rumah dengan adanya zona bebas HP, bisa pada saat di meja makan, kamar tidur (terutama 1 jam sebelum tidur) dan saat sedang belajar bersama.
  3. Manfaatkan fitur kontrol orang tua pada handphone untuk mengatur batas waktu harian pada aplikasi tertentu (terutama aplikasi video pendek).
  4. Hapus aplikasi pemicu dan ganti dengan aplikasi yang lebih edukatif atau kreatif
  5. Buat permainan kreatif yang mendorong anak untuk terlibat langsung dalam aktivitas yang membutuhkan fokus dan pemecahan maslaah secara offline, seperti membaca buku, menggambar atau menyelesaikan puzzle.
  6. Ajak anak untuk beraktivitas fisik di luar rumah, kegiatan ini terbukti membantuk memulihkan daya atensi dan meningkatkan fungsi kognitif yang melemah akibat paparan layar berlebihan
  7. Habiskan waktu bersama anak dalam kegiatan yang melibatkan interaksi dua arah, seperti bercerita, memasak bersama, atau mengerjakan pekerjaan rumah, alih-alih hanya duduk diam menonton TV/HP bersama.
  8. Menjadi teladan (role model) bagi anak-anak. Orang tua tidak bisa meminta anak untuk meletekkan HP jika mereka sendiri terus-menerus scrolling di depan anak, karena anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat.
  9. Minimalkan multitasking saat berinteraksi dengan anak lalu berikan perhatian penuh pada anak. Jangan sekali-kali mengedek notifikasi atau membalas pesan saat sedang bersama dengan anak, ini akan mengajarkan anak nilai dari fokus dan kehadiran penuh.

Apa yang perlu dilakukan oleh guru, serta penerapannya pada pembelajaran di sekolah

Peran guru menjadi krusial dalam mengatasi siswa yang menunjukan gejala brain-rot dan penurunan atensi, terutama karena gejala tersebut kebanyakan disalahartikan sebagai kemalasan dan kenakalan.

Alih-alih hanya berfokus pada hukuman dan penilaian negatif, (walaupun diperlukan pada saat genting), guru harus mengambil pendekatan yang lebih sadar kognitif dan empatik

1. Strategi guru dalam menanggapi siswa dengan gejala brain-rot

  1. Tugas utama guru adalah menyesuaikan lingkungan belajar dan metode pengajaran untuk mengakomodasi rentang perhatian siswa yang semakin pendek.
  2. Mengakui dan memahami fenomena kognitif, belajar lebih dalam tentang pengaruh lingkungan digital. Belajar atau mengikuti pelatihan tentang dampak screen time berlebihan, brain-rot, dan mekanisme kerja dopamin pada otak. Ini membantu guru dalam melihat masalah brain-rot sebagai perubahan neurokognitif pada siswa, bukan sebagai masalah moral atau etika
  3. Melakukan observasi empatik untuk mengidentifikasi tanda-tanda spesifik brain-rot, seperti sering melamun, mudah terdistraksi oleh hal-hal kecil, cepat bosan saat sesi panjang, atau kesulitan beralih dari satu tugas ke tugas lain.

Karena siswa terbiasa dengan stimulasi cepat, guru perlu menyesuaikan metode pengajaran seperti membagi materi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih menarik.

Fokus Masalah Strategi Pembelajaran yang Harus Diterapkan Guru
Rentang Atensi Pendek Metode Chunking (Pecah Materi): Pecah sesi belajar yang panjang (misalnya 45 menit) menjadi segmen 10–15 menit. Setiap segmen diakhiri dengan aktivitas singkat yang melibatkan pergerakan atau interaksi.
Kebutuhan Stimulasi Cepat Gunakan Visual dan Audio Interaktif: Integrasikan elemen visual yang kuat, infografis, atau video pendek yang relevan dan berkualitas (bukan sekadar hiburan) untuk menyampaikan poin kunci, lalu segera minta siswa berdiskusi atau menuliskan ringkasan.
Kesulitan Transisi Fokus ""Brain Breaks"": Sisipkan istirahat singkat (1–2 menit) yang melibatkan gerakan fisik ringan, permainan tebak-tebakan cepat, atau latihan pernapasan untuk membantu reset fokus sebelum beralih ke materi baru.
Belajar Pasif Tingkatkan Aktivitas Aktif: Kurangi ceramah (metode pasif). Perbanyak proyek kecil, diskusi kelompok, simulasi, atau presentasi yang mengharuskan siswa berbicara, bergerak, dan berpikir secara aktif.

Guru harus menjadi garda terdepan dalam menegakkan disiplin digital yang sehat di lingkungan sekolah seperti :

  1. Penerapan digital detox di kelas, menerapkan aturan yang tegas seperti semua ponsel dikumpulkan di kotak atau tas di depan kelas saat jam pelajaran. Ini akan menghilangkan sumber distraksi utama
  2. Kontrak belajar dapat melibatkan siswa dalam membuat aturan kelas terkait penggunaan gawai. Hal ini menimbulkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan terhadap aturan yang disepakati
  3. Memilai pelajaran dengan sesi singkat untuk Latihan mindfullness, misalnya meminta siswa fokus pada napas selama 30 detik atau latiha visualisasi untuk secara sadar melatih kemampuan memusatkan perhatian.

Seorang guru juga harus rutin untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang tua demi anak-anak. Sosialisasikan hal terkait brain-rot dengan cara seperti memberikan sesi informasi atau kirim buletin tentang masalah video pendek dan dampaknya terhadap atensi siswa dan mengapa siswa tampak “malas” di sekolah. Jelaskan bahwa masalah ini berakar dari papasan digital.

Mengajak kerja sama orang tua untuk  menciptakan zona bebas HP di rumah, terutama saat waktu makan dan sebelum tidur. Minta mereka untuk mamastikan anak mendapatkan tidur yang cukup, karena kurang tidur sangat memperburuk defisit atensi.

Tantangan ekstrem atau solusi keras untuk menyembuhkan gejala brain-rot ini, baik bagi siswa maupun orang lain.

Solusi ini pada dasarnya berfokus pada pemulihan kemampuan otak untuk memproses informasi secara mendalam (deep work) setelah terbiasa dengan stimulasi instan (shallow content). Namun, perlu ditekankan bahwa solusi ini membutuhkan disiplin luar biasa, konsistensi, dan pengawasan, terutama jika diterapkan pada anak-anak dan remaja.

1. Digital detox total (solusi keras)

Langkah ini adalah langkah ekstrem dan seringkali menjadi fondasi untuk pemulihan kognitif. Tujuannya untuk memberikan istirahat pada otak dari ketergantungan dopamin digital.

2. Terapi neurokognitif (pendekatan klinis)

Jika gejala brain-rot sudah parah hingga mengganggu fungsi sehari-hari, pendekatan klinis mungkin diperlukan.

  • Dopamine Fasting/Detox: Ini adalah praktik menahan diri dari segala aktivitas yang memberikan kesenangan instan (termasuk makanan favorit, musik, dan konten digital) untuk jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah menurunkan ambang batas dopamin sehingga aktivitas normal (seperti membaca atau belajar) kembali terasa lebih memuaskan.
  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Terapi ini digunakan untuk mengatasi kecanduan (termasuk kecanduan gadget). Terapis akan membantu siswa/individu mengidentifikasi pola pikir negatif dan perilaku kompulsif terkait penggunaan gawai, lalu secara bertahap menggantinya dengan kebiasaan yang lebih sehat dan realistis.
3. Peran guru dan sekolah (aplikasi keras di lingkungan belajar)

Bagi siswa, “solusi keras” yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah adalah berfokus pada penegakan kognitif yang ketat.

Strategi Keras Guru Mengapa Ini Efektif
""Kotak Detoks"" Wajib Mewajibkan semua siswa meletakkan ponsel mereka di ""kotak detoks"" (area terkunci) di awal pelajaran dan baru dapat mengambilnya di akhir hari atau saat istirahat. Tidak ada toleransi untuk pelanggaran.
Sistem Belajar Deep Work Terapkan metode belajar yang mewajibkan fokus tanpa gangguan selama 30-45 menit berturut-turut (mirip Teknik Pomodoro), lalu diikuti istirahat singkat. Ini melatih ""otot fokus"" yang telah melemah.
Proyek Membaca Berat Mengganti beberapa tugas digital dengan proyek yang memerlukan membaca buku non-fiksi yang kompleks atau penelitian panjang yang hanya mengandalkan sumber cetak, memaksa otak untuk memproses informasi yang padat.
Penilaian Kritis Konten Mengajarkan mata pelajaran literasi digital yang ketat, di mana siswa harus menganalisis video pendek dan media sosial (misalnya, 30 detik reel vs. 30 menit podcast) untuk mengidentifikasi bagaimana konten tersebut memanipulasi perhatian dan merusak kemampuan berpikir kritis.

Tantangan utama (mengapa solusi ini sulit diterapkan)

  1. Karena reaksi kecanduan ini sudah parah, maka siswa (dan orang dewasa) yang kecanduan akan menunjukan penolakan kuat, kecemasan, bahkan gejala fisik saat gadget diambil, mirip dengan gejala putus zat.
  2. Keterlibatan orang tua menjadi gagal total jika tidak didukung 100% yang dimana orang tua harus menjadi teladan, dan menerapkan batasan yang sama di rumah
  3. Ketergantungan pembelajaran, karena di banyak sekolah terutama dengan basis sekolah teknologi, gawai sudah menjadi alat bantu belajar. Guru harus menyediakan alternatif yang siap pakai dan menarik.

Menyembuhkan brain-rot pada intinya membutuhkan komitmen tinggi, apalagi untuk secara permanen mengubah kebiasaan digital menjadi puasa digital yang terkontrol dan stimulasi kognitif aktif secara berkelanjutan.

Apakah Ada Hal Yang Bisa Dilakukan Bagi Sekolah Yang Dimana Gawai Menjadi Alat Bantu Dalam Pembelajaran Sehari-Hari.

Ini adalah tantangan terbesari di era digital, pendidikan yang memanfaatkan teknologi apalai keunggulan gawai sebagai alat dasar belajar, perlu perhatian lebih apalagi tanpa harus jatuh pada perangkap distraksi yang menyebabkan brain-rot. Sekolah yang menerapkan konsep Blended Learning atau kelas yang sangat mengandalkan gawai harus memiliki strategi yang lebih cerdas dan disiplin.

Berikut ini langkah yang bisa dilakukan sekolah agar gawai tetap menjadi alat bantu, bukan sumber utama penurunan atensi:

1. Aturan penggunaan gawai yang sangat ketat

  • Terapkan aturan yang berfokus pada tujuan dan waktu penggunaan seperti wajib mengaktifkan mode fokus (digital wellbeing di android atau screen time di iOS). Mode ini akan membisukan semua notifikasi dari aplikasi yang tidak relevan (media sosial, game, pesan) dan hanya mengizinkan aplikasi yang digunakan untuk pelajaran.
  • Aplikasi terbatas yang boleh untuk diakses dan diizinkan selama jam pelajaran. Gawai siswa harus disetel agar hanya aplikasi yang dibolehkan saja yang dapat dibuka saat belajar
  • Jeda gawai terstruktur, seperti menentukan dimana gawai/HP harus dimatikdan atau diletakan, bahkan di tengah jam pelajaran. Misalnya setelah 15 menit menggunakan HP untu riset, siswa harus meletakkannya selama 5 menit untuk diskusi tatap muka atau menulis di buku catatan.

2. Pengajaran yang mendukung fokus mendalam (deep focus)

  • Guru harus secara aktif merancang tugas yang tidak dapat diselesaikan dengan scrolling cepat. Tugas harus bisa memberikan intruksi untuk input manual meskipun HP digunakan seperti boleh menggunakan google untuk riset, tetapi wajib mencatat temuan inti di buku tulis.
  • Penggunaan gawah / HP harus untuk produksi, bukan konsumsi. Alih-alih menonton video, minta siswa untuk membuat video penjelasan mereka sendiri. Alih-alih membaca presentasi, minta siswa merancang infografis interaktif
  • Metode split-attention yang dikelola, seperti saat menggunakan gawai / HP itu harus untuk aktivitas satu layar, satu tugas. Jangan biarkan siswa membuka tab riset sambil mendengarkan ceramah guru dan sambil membuat chat.

3. Infrastruktur dan pengawasan digital yang jelas

  • Pengawasan bukan hanya tentang hukum, tetapi tentang memberikan bimbingan kognitif seperti :
  • Sistem pemantauan jaringan dan menerapkan aplikasi manajemen kelas yang memungkinkan guru memantau layar siswa secara real-time atau memblokir situs web tertensu
  • Pendidikan literasi digital yang kritis seperti mengadakan sesi rutin di mana siswa diajarkan tentang dampak dopamin, attention economy, dan bagaimana algoritma dirancang untuk mencuri perhatian mereka.
  • Penguatan nilai fisik dan pastikan setiap sesi yang menggunakan gawai diimbangi dengan aktivitas offline. Misal 20 menit untuk riset, lalu 20 menit berikutnya untuk diskusi dan presentasi.

Dengan strategi-strategi ini, diharapkan sekolah dapat memaksimalkan maanfaat teknologi, akses informasi dan kolaborasi, sambil secar ketat membatasi resiko kognitif yang ditimbulkan oleh konten brain-rot.

Demikian pembahasan tentang brain-rot yang membahayakan otak, terutama dampaknya bagi pendidikan dan bagi orang pada umumnya serta apa yang bisa dilakukan bagi pengampu pendidikan terutama orang tua dan guru dalam menangati masalah brain-rot dikalangan anak-anak pelajar. Semoga dengan ini kita dapat menyadari dan lebih waspada terhadap penggunakan perangkat digital terhadap proses kerja otak manusia.

Sumber:

Antonius Nandiwardana.  Brain Rot, Benarkah Otak Mengalami Pembusukan?. 13 Maret 2025. https://kanal.psikologi.ugm.ac.id/brain-rot-benarkah-otak-mengalami-pembusukan/
Fendy Hutari. Di balik brain rot era digital. 16 Desember 2024. https://www.alinea.id/gaya-hidup/di-balik-ibrain-roti-era-digital-b2kJn9QYl
Oxford University Press. ‘Brain rot’ named Oxford Word of the Year 2024. 2 Desember 2024. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/
Genis Dwi Gustati. Brain Rot Meluruhkan Daya Nalar. 8 Juli 2025. https://www.ums.ac.id/berita/teropong-jagat/brain-rot-meluruhkan-daya-nalar
Fujiyama. Brain Rot: Pengertian, Penyebab, dan Cara Mengatasi. 30 Januari 2025. https://surabaya.telkomuniversity.ac.id/brain-rot-pengertian-penyebab-dan-cara-mengatasi/
Kudus Purnomo Wahidin. Berbagai cara untuk mengatasi brain rot. 2 Juli 2025. https://www.alinea.id/gaya-hidup/berbagai-cara-untuk-mengatasi-brain-rot-b2nqJ9RNd
dr. Danti Filiadini, Sp.KJ. Terapi Kognitif Perilaku Untuk Mengatasi Overthinking. 2 Oktober 2024. https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/terapi-kognitif-perilaku-untuk-mengatasi-overthinking.
Wisnu Darjono. Brain Rot and Digital Fatigue: A Mental Health Wake-Up Call for Indonesia's Youth. 28 Juni 2025. https://en.netralnews.com/brain-rot-and-digital-fatigue-a-mental-health-wake-up-call-for-indonesias-youth/dWkvRzRXVjVnU1gyS0J1THp5OFNUZz09
Lindsay Curtis. 12 Habits To Prevent "Brain Rot". 6 Januari 2025. https://www.health.com/habits-to-prevent-brain-rot-8766150
Intan Permata Sari, Rama W Kusuma Wardhani, Ahmad Syaiful Amal. ( Desember 2020). Peran Orang Tua Mencegah Dampak Negatif Gadget Melalui Pendekatakan Komunikasi dan Psikologi. https://e-journal.iainsalatiga.ac.id/index.php/ijip/article/download/5193/1732
Dini Septi Harianti, Sigit Prasetyo, Sibawaihi, Muhammad Abid Al Faqh. PERAN ORANG TUA DALAM MENGATUR PENGGUNAAN GADGET PADA ANAK USIA DINI. https://jurnal.uns.ac.id/kumara/article/view/96477.

10/02/2025


EmoticonEmoticon